Gunung
sinabung merupakan gunung yang masih aktif di Pulau Sumatra tepatnya di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dengan tinggi 2460 m diatas permukaan laut,
gunung ini terlihat sangat bagus.
Tapi kini gunung Sinabung telah “batuk” dengan memuntahkan lava dan debu vulkaniknya. Lebih dari tiga bulan yang lalu gunung Sinabung membuat warga di sekitar gunung tersebut harus mengungsi. Mereka harus merelakan tempat tiggal dan lahan tempat mengais rezeki terkubur debu Sinabung. Pengungsi yang umumnya sebagai petani cabai, kopi, dan jagung, kini mereka hanya bisa terdiam di pengungsian. Bahkan setelah Sinabung sembuh dari
Sadarta Milala (40) duduk sendiri di posko pengungsi erupsi
Gunung Sinabung, di Masjid Agung Kaban Jahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara,
Senin (20/1/2014) sore. Ia asyik melamun, sambil mengurut kedua kaki di sudut
posko pengungsian.
Hiruk pikuk sekeliling tak ia gubris. Kerumunan pengungsi yang merubung Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pun tak mengusiknya. Begitu pula bantuan lima truk yang dibawa Gita tak membuat dia beranjak.
Saat diajak berbincang, bapak dengan dua anak ini juga tidak terlalu bersemangat. Raut wajahnya muram. Ada risau tergambar jelas. Dari obrolan sesudahnya, dia mengaku digelayuti pikiran soal ladang dan rumah yang dihantam debu vulkanik Gunung Sinabung sejak tiga bulan lalu. (sumber:kompas.com)
Hiruk pikuk sekeliling tak ia gubris. Kerumunan pengungsi yang merubung Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pun tak mengusiknya. Begitu pula bantuan lima truk yang dibawa Gita tak membuat dia beranjak.
Saat diajak berbincang, bapak dengan dua anak ini juga tidak terlalu bersemangat. Raut wajahnya muram. Ada risau tergambar jelas. Dari obrolan sesudahnya, dia mengaku digelayuti pikiran soal ladang dan rumah yang dihantam debu vulkanik Gunung Sinabung sejak tiga bulan lalu. (sumber:kompas.com)
Kehidupan korban Sinabung kini berputar 180o. Mereka yang biasanya hidup bahagia di rumah, tidur nyenyak, para
siswa mencari ilmu di sekolah, kini harus berbagi tempat tidur beralas matras
di tempat pengungsian.
Setitik harap mereka ungkap, semoga pemerintah mau membantu
mereka membuka lembaran baru untuk kehidupan mereka nanti. Bagi mereka, mimpi
buruk terbesar bukanlah lontaran lava pijar Gunung Sinabung. Untuk mereka,
mimpi buruk adalah ketika anak-anak telantar, apalagi kehilangan pendidikan,
karena orangtuanya tak lagi mempunyai penghasilan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar